Minggu, 14 Desember 2008

KELUARGA KORBAN BERKISAH

MENDUNG DI ISTANA KADRIYAH
Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara (kedua ibu ratu itu kini sudah almarhumah) masing-masing berusia sekitar 33 dan 30 tahun ketika balatentara Dai Nippon menginjakkan kakinya di Kalimantan Barat 1942. keduanya adalah putri Sultan Pontianak Syarif Muhammad Alkadri. Putra-putri Sultan Muhammad seluruhnya 10 orang.

Pada penangkapan 24 Januari 1944, Sultan Muhammad telah diambil bersama seluruh anak laki-lakinya, kecuali Syarif Hamid (kelaknya sebagai Sultan Hamid II). Termasuk semua menantunya, kecuali Syarif Ibrahim Alkadri suami Syarifah Safiah. Ditambah lagi dengan sejumlah keluarga dekat, baik yang bertempat tinggal di dalam lingkungan tembok Istana Kadriyah maupun yang tinggal di luar tembok istana.

Subuh 24 Januari 1944 sekitar pukul 03.00 tiba-tiba saja suasana yang mencekam dan mencemaskan terjadi dalam lingkungan tembok Istana Kadriyah Kampung Dalam Pontianak. Diperkirakan tidak kurang dari 15 lusin tentara Jepang telah mengadakan stelling. Mereka berpencar di seluruh rumah yang didiami keluarga Alkadri, dengan senapan bayonet terhunus. Dari celah-celah lantai rumah yang bertiang tinggi, kelihatan bayonet diacung-acungkan.

Kemudian setelah itu, pintu-pintu rumah digedor. Beberapa orang kempeitai masuk, membawa lampu senter. Di tangannya tergenggam sebuah daftar les hitam berikut foto dari calon-calon korban. Seluruh penghuni rumah dikumpulkan, dipilih mana yang termasuk ke dalam daftar tersebut. Mula para calon korban dikkat dengan sembarang apa saja yang bisa, apakah itu taplak meja atau karung, atau gorden. Tangan diikat ke belakang. Di antara penghuni Istana Kadriyah ada yang bermaksud untuk meloloskan diri lewat pintu belakang. Tapi ternyata di sana pun telah berjaga-jaga tentara Jepang.
Sultan Muhammad yang pada ketika itu baru saja selesai makan sehabis shalat tahajud, diberitahu tentang apa yang sedang terjadi. Namun sultan tampak tenang-tenang saja, bahkan berkata tidak apa-apa Jepang sedang mencari orang-orangnya. Mungkin sesungguhnya kalimat itu masih akan berlanjut, tetapi keburu muncul tentara Jepang yang langsung menangkapnya. Semula sultan akan diperlakukan juga seperti korban-korban lainnya. Tapi sultan menolak dan dengan berwibawa berkata tidak akan lari.

Di rumah lain, di samping istana, Ratu Anom Bendahara sempat menerima pukulan-pukulan senter di kepalanya karena menentang perlakuan Jepang terhadap suami dan keluarganya yang lain. Di rumah-rumah keluarga Alkadri itu, Jepang bukan hanya telah mengambil manusia, tapi juga barang-barang perhiasan berharga. Untuk maksud itu mereka telah mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Dari tingkat dua Istana Kadriyah barang-barang perhiasan seperti emas, intan dan berlian diturunkan dengan menggunakan tali. Termasuk di situ alat-alat senjata yang bertatahkan berlian, bahkan dua mahkota emas tulen.

Orang-orang yang diambil dari rumahnya masing-masing dikumpulkan dekat tiang bendera di halaman istana. Pada dada mereka disematkan secarik kertas atau kain, sebagai tanda. Kemudian orang-orang itu diseberangkan dengan motor air yang dikenal dengan sebutan Motor Sungkup. Hingga sore hari esoknya, Istana Kadriyah masih diblokir oleh tentara Jepang. Selain mencari orang-orang yang belum ditemukan, juga mencari barang-barang berharga. Untuk mencari yang disebut terakhir ini kiranya cukup memakan waktu.

Salah seorang putra Sultan Muhammad yang berhasil meloloskan diri adalah Syarif Abdulmuthalib Pangeran Muda. Ketika penangkapan berlangsung ia berhasil mengelabui tentara Jepang. Karena tak berhasil menemukannya, Jepang membuat janji bohong. Jika Pangeran Muda menyerahkan diri, maka sultan akan dipulangkan. Atas desakan saudara-saudara perempuannya yang menginginkan sultan segera dikembalikan, pun atas kehendak sendiri, akhirnya Pangeran Muda menyerahkan diri. Sungguh memilukan.

Selesai penangkapan itu, 7 Maret 1944 kembali Jepang menangkap lagi seorang keluarga Kadriyah. Sekali ini Syarifah Maimunah Ratu Kesuma Yudha putri sultan yang dalam keadaan hamil tua. Berikutnya Syarif Ibrahim menantu sultan. Namun yang terakhir ini dipulangkan setelah ditahan selama sebulan. Belum puas dengan apa yang telah diperolehnya, selama lebih kurang enam bulan setelah penangkapan, tentara Jepang selalu saja datang ke istana. Dan kedatangan tentara-tentara Jepang itu seakan mau berbaik-baik. Oleh kalangan istana, hal itu diduga sebagai ingin mengetahui rahasia dari mulut anak-anak yang polos. Pada waktu itu Jepang juga mengeluarkan pengumuman, agar semua barang berharga seperti emas, intan dan berlian diserahkan kepada pemerintah Jepang.

Berita yang dilansir Borneo Sinbun 1 Juli 1944 membuat kalangan istana menjadi gempar. Betapa kedukaan telah menyelubungi seluruh keluarga Alkadri. Sampai-sampai tak dimiliki lagi air mata untuk ditetskan. Kering dalam kehampaan rasa. Setelah kekuasaan Jepang runtuh, Ratu Perbu Wijaya, Ratu Anom Bendahara bersama dengan keluarga korban lainnya telah datang ke Mandor untuk menyaksikan tempat di mana Jepang telah melakukan pembantaian. Yang datang ke sana bukan hanya keluarga Istana Kadriyah, tapi juga masyarakat lainnya.

Kepergian ke Mandor diantar oleh anggota tentara Sekutu, bersama beberapa orang Jepang yang diborgol sebagai pennunjuk jalan. Apa yang ditemui, tak lain tulang belulang yang sudah terpisah-pisah, berserakan di sana-sini. Tak dapat lagi dikenal identitasnya. Betapa luluh hati menyaksikan pemandangan serupa itu. Tak kuasa kata-kata mengungkapkannya.

Sedangkan mayat Sultan Muhammad ditemukan pada 1945 itu juga, atas petunjuk seorang hukuman yang ikut menyiapkan tempat penguburannya. Lokasinya berada di belakang kompleks susteran Pontianak. Waktu digali masih dalam keadaan utuh. Kemudian dibawa ke RSO Soengai Djawi Pontianak diperiksa dr Soedarso. Selanjutnya setelah itu dibawa pulang ke Istana Kadriyah. Dengan upacara kebesaran, dimakamkan di pemakaman raja-raja di Batulayang Pontianak. Mengenai mayat korban lain yang berasal dari Istana Kadriyah tetap tidak ditemukan. Apakah berada di Mandor ataupun tempat lain, tidak diketahui dengan jelas. (Din Osman)

TAK MENGERTI MENGAPA DIJEMPUT
Pengalaman mencekam juga dialami H Jimmi Mohamad Ibrahim (Alm). Bedanya, Jimmi tak sempat merasakan kerja paksa mencangkul kebun sebagaimana dialami Ratu Perbu Wijaya dan Ratu Anom Bendahara. Sebab ketika terjadi penculikan oleh serdadu jepang itu, Jimmi masih kanak-kanak, duduk di kelas IV Jokio-ko Gakko atau Sekolah Dasar. Terakhir Jimmi adalah Ketua DPR Propinsi Kalbar dan sebelumnya sebagai wakil Gubernur dan pernah pula sebagai Sekda Kalbar. Ia adalah putra Raja Mempawah Mohammad Taoefik Aqamaddin yang juga korban penyungkupan.

Sejak bersekolah di zaman pemerintahan Belanda, Jimmi sudah indekos di rumah orang Belanda kenalan ayahnya. Waktu zaman Jepang ia kos di rumah kenalan ayahnya bernama panangian harahap seorang penilik sekolah. Ketika itulah ia menyaksikan penangkapan oleh serdadu Jepang terhadap penghuni rumah tempat dia indekos, semalam menjelang berlangsungnya konferensi kerja Nissinkai di Pontianak yang diselenggarakan pemerintah Jepang.

Waktu itu, ungkap Jimmi, sekitar pukul 2 dinihari, dia kaget dibangunkan serdadu Jepang yang memegang senapan, lengkap dengan sangkur terhunus. Rupanya serdadu Jepang tengah mengadakan penggeledahan. Semua penghuni dikumpulkan di ruang tengah. Seorang serdadu membuka daftar, lalu memanggil nama Panangian Harahap dan Goesti Djafar Panembahan tayan seorang peserta konferensi yang menumpang menginap di situ. Kepala para tawanan itu ditutup dengan kain hitam, tangan diikat ke belakang. Pada tangan yang terikat itu dicantelkan kertas bertuliskan huruf kanji. Keduanya digiring naik ke truk yang berttutup terpal.

Pagi-pagi sekali Jimmi disuruh istri Panangian, Nurlela Panangian yang kemudian diciduk juga, ke rumah di Jalan Sikishima-dori yang di zaman Belanda sebagai Palmenlaan atau jalan Merdeka sekarang, di rumah yang tidak jauh dari kediaman keluarga Panangian. Jimmi disuruh memberitahu kepada ayahnya perihal kejadian itu. Seperti juga para raja lainnya, Mohammad Taoefik telah datang ke Pontianak dari Mempawah. Jimmi melihat ayahnya saat itu tengah sarapan bersama Sultan Sambas Mohammad Ibrahim Tsafioeddin. Kedua orang tua ini segera berkemas menuju kantor syuutizityo setelah mendengar penuturan Jimmi.

Menjelang mahgrib, kenang Jimmi, ayahnya pulang sendiri berjalan kaki. Ayahnya tampak letih sekali, kata Thaoefik sultan Sambas dan raja lain sudah ditangkap Jepang ketika konferensi berlangsung. Jimmi tidak bertanya mengapa ayahnya tidak ikut ditangkap. Waktu itu kabarnya Sultan Pontianak pun dibolehkan pulang.

Dua bulan kemudian, dua serdadu Jepang datang ke istana Mempawah, sekitar 67 kilometer utara Pontianak, untuk menjemput Panembahan Mempawah ini. Mereka datang mengendarai mobil sedan. Ketika itu Thaoefik sedang makan. Sikap serdadu itu cukup menghormati panembahan, terbukti dengan membolehkannya menyelesaikan santap siangnya. Menurut para penjemput itu, Dokoh sebutan raja tersebut, akan dibawa oleh mereka ke Pontianak untuk menghadap syutizi.

Mata ayahnya tidak ditutup, kata Jimmi. Bahkan ayahnya boleh membawa koper. Serdadu itu membantu mengangkat koper ke mobil. Dan sejak itu sang ayahpun tidak pernah pulang, kisah Jimmi. Setelah panembahan diciduk, di istana Amantubillah Mempawah dipasang plakat berbunyi Warui Hitto, artinya Orang jahat. Istana dinyatakan tertutup dan tidak boleh menerima tamu. Dan di hari tuanya Jimmi menuturkan, dirinya baru tahu perihal penangkapan itu setelah ia duduk di kelas VI. Menjelang Jepang jatuh dihajar Sekutu, sekitar Juli 1945 Jimmi yang telah bergelar Pangeran Mohammad dibawa oleh serdadu Jepang ke Mempawah untuk dilantik sebagai panembahan menggantikan ayahnya. Kepadanya juga diberikan sertifikat. Waktu penobatan, panembahan muda itu tinggal membacakan pidato yang dibuatkan Jepang. Belakangan Jimmi baru tahu bahwa tindakan itu dilakukan Jepang karena sudah tahu bakal jatuh. Mengenai sang ayah, sampai belakangan tidak diketahui di mana kuburnya. Jimmi yang kini sudah almarhum kurang yakin kalau ayahnya ada di pemakaman masal Mandor. (Din Osman)

LOLOS DARI MAUT
Adalah RNT Simorangkir yang luput dari sungkupan Jepang. Apa yang dialaminya boleh dikatakan sebagai suatu keajaiban. Padahal ia dan seorang temannya telah berada di dalam truk sungkup bersama dengan korban lainnya dari Mempawah. Dia yang kini sudah almarhum, semasa hidupnya menurutkan, dirinya datang ke Kalimantan Barat dari Sumatera Utara ketika berusia 15 tahun. Ketika Jepang masuk usianya sekitar 27 tahun.

Malam-malam menjelang penangkapan besar-besaran di Mempawah, suasana terasa sangat tegang. Kelihatan beberapa truk melaju ke utara ke arah Singkawang. Di bak belakang tampak duduk dua orang tentara Jepang di atas kursi rotan. Keesokan harinya di tempat mereka bekerja telah datang seorang polisi yang bernama Yusuf Amin. Waktu itu hari baru sekitar jam 9 atau 10 pagi. Dirinya bersama Jafar dan Yunan Mantri Pagung disuruh menghadap Tokkeitai di Mempawah.

Ketika ketiganya menghadap kepala polisi Jepang itu, Simorangkir duduk di tengah. Satu persatu ketiganya ditanyai umur, nama dan daerah asalnya. Setelah itu, kenang Simorangkir, Yunan disuruh masuk ke dalam, sedangkan dirinya dan Jafar disuruh menunggu di luar kantor. Ketika berada di luar kantor itu mereka berdua didatangi Bunken Kanrikan Nakanichi. Ia menanyakan apakah keduanya sudah mendapat panggilan.

Bunken kemudian masuk ke kantor. Kira-kira jam 11 ia tampak keluar. Kepada keduanya Bunken itu menyuruh pulang. Setelah keduanya bersaikere yaitu cara penghormatan yang berlaku pada masa itu, maka keduanya pulang ke rumah masing-masing. Dari kantor polisi itu Simorangkir tidak kembali ke Kantor Kadaster tempat ia bekerja, melainkan terus ke rumah. Karena pulang agak terlambat istrinya Boru Tobing menyusul ke kantor. Oleh pegawai lain dikatakan Simorangkir sedang membagi gula.

Kecurigaan sang istri memang beralasan. Sebab tidak biasa dia pulang terlambat dari jam semestinya, karena sore hari mesti masuk kerja lagi. Beberapa hari setelah itu, dia mendapat panggilan lagi ke kantor polisi Jepang. Ketika akan meninggalkan rumah, Simorangkir dan istri bersimpuh di pintu ruang tengah berdoa. Apa yang suami—istri itu lakukan disaksikan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil.

Saat tiba di kantor polisi, tampak dua truk datang dari arah Pontianak dikawal tentara Jepang. Satu truk menuju ke penjara, satunya lagi masuk ke halaman kantor polisi. Bersama dengan Jafar, ia pergi melaporkan diri. Ketika itu sekitar jam 13 siang. Suasana terasa sepio dan lengang. Dari kejauhan terlihat, jalan masuk menuju ke penjara ataupun kantor polisi dijaga ketat. Orang-orang tidak diperbolehkan lewat.
Kelihatan truk yang diparkir di depan penjara mulai diisi dengan orang-orang yang sebelumnya memang sudah ditahan di sana. Setelah truk itu dipenuhi dengan tawanan atau calon korban, lalu disungkupi dengan kain mota atau terpal. Simorangkir dan Jafar lalu diperintahkan naik truk itu. Tapi sebelum ditutupi terpal, Bunken Kanrikan Nakanichi sempat melihat. Buru-buru ia masuk ke kantor dan memerintahkan agar truk jangan ditutupi dulu. Ia kemudian pergi menemui Keisatsutyo. Jelas kelihatan kedua pembesar Jepang itu berbicara serius. Dan ketika Bunken kembali ke dekat truk, ia langsung memerintahkan Simorangkir dan Jafar untuk turun.

Setelah keduanya turun, bak belakang truk itu siap ditutup. Seorang orang Tionghoa bernama Kho Kim Siu kelihatan masih berdiri di atas bak truk itu. Seorang tentara Jepang memukul kepalanya dengan popor senapan hingga ia terduduk. Truk ditutup lalu berangkat ke arah Pontianak meninggalkan Mempawah.

Setelah kedua truk meninggalkan Mempawah, Keisatsutyo minta Bunken mengumpulkan penduduk termasuk pegawai yang ada di mempawah. Hadir sekitar 50 orang. Kesemuanya berkumpul di kantor Bunken Kanrikan. Keisatsutyo berkata bahwa Tuan Besar sudah mengangkut orang-orang jahat itu ke Pontianak. Disebutnya orang-orang yang diangkut itu akan dipotong semua. Selesai itu orang-orang disuruh bubar.

Simorangkir mengirakan sedikitnya ada 45 orang yang diangkut dengan dua truk itu. Itu dianggap sudah memenuhi target. Untuk memenuhi target, bukan mustahil jika ada yang bercerita dalam perjalanan menuju tempat pembantaian serdadu pengawal truk mencomot siapa saja penduduk yang ditemukan di pinggir jalan. Mereka ikut dinaikkan ke truk sungkup, sekedar untuk mencukupi jumlah yang ditargetkan. Termasuk terhadap dua orang polisi yang tengah bertugas menjaga di mulut jalan, keduanya dinaikkan dan disungkup pula untuk menggantikan kekurangan dua orang calon korban yang lolos, Simorangkir dan Jafar tadi. Bahkan ada yang bercerita bila dalam perjalanan seseorang calon korban berhasil meloloskan diri dari truk sungkup, serdadu Jepang itu tidak berusaha untuk menangkapnya kembali. Tapi akan memungut korban lain yang mudah dijumpai di sepanjang jalan.

Lain Simorangkir, lain pula Ade Mohammad Djohan. Ade Djohan yang kini sudah almarhum semasa hidupnya menuturkan bahwa Tuhan masih berpihak kepada dirinya, sehingga meskipun dia menyerah pada maut, namun dia masih diberikan keselamatan dari kekejaman Jepang sekitar 1944. Ade Djohan ketika itu bekerja di kantor koperasi selaku pimpinan di daerah Nanga Pinoh Melawi.

Umurnya saat itu sekitar 32 tahun. Di tanah Nanga Pinoh sendiri saat itu mulai diadakan gerakan penyungkupan atas beberapa tokoh secara bertahap. Mereka yang diambil dibawa dengan kapal sungkup melalui perairan Sungai Kapuas. Entah ke mana. Perkiraan mereka yang tinggal adalah ke Pontianak. Lolosnya Ade Djohan merupakan peristiwa yang kebetulan. Dalam arti bukan merupakan upaya untuk meloloskan diri.

Mereka sebanyak 17 orang dan merupakan gelombang keempat dari peristiwa pengambilan itu, digiring ke kapal. Ketika akan berangkat, dan dihitung, ternyata ada satu orang yang masih tertinggal di daratan. Oleh Jepang, Ade Djohan ditugaskan mencari orang itu. Cukup lama juga ia turun ke darat, namun yang dicari tak ketemu. Lalu Ade Djohan pun kembali ke kapal. Ternyata kapalnya sudah lama berangkat dengan mengikutsertakan orang yang dicarinya tadi. Dengan begitu selamatlah jiwa Ade Mohammad Djohan. Tuha menggariskan nasib yang lebih baik kepadanya. Ade Djohan meninggal di usia senjanya. (Din Osman)

MENGENAL CELANA UNIK
Ketika Jepang kalah—menyerah tanpa syarat kepada tentara Sekutu—mereka meninggalkan ladang pembantaian Mandor dalam keadaan sangat memilukan. Di sana ditemukan sejumlah lapangan yang diberi tanda dengan tonggak kayu belian (ulin). Diperkirakan, itu merupakan makam masal yang sempat dikerjakan. Selain itu sekitar 3000-an kerangka manusia ditemukan berserakan di sana, telah bercerai-berai karena di makan babi hutan.

Nyonya Saddiah Mahidin Batubara (almh) asal Sipirok (Sumut) pada tahun 1977 bercerita, suaminya Mahidin Batubara yang bekerja di Kantor Distribusi Pemerintah Jepang (SADIP) di kawasan Pelabuhan Seng Hie Pontianak, diambil Jepang dari kantornya pada bulan Maret 1944 sekitar pukul 10.00 pagi. Mereka tak pernah bertemu lagi setelah itu. Setelah Jepang kalah, mereka keluarga korban berkesempatan untuk datang ke Mandor. Sekitar 11—13 mobil yang dipergunakan. Bertindak selaku penunjuk jalan, beberapa orang Jepang yang tangannya diborgol dan dikawal oleh tentara Australia (Sekutu).

Apa yang mereka saksikan di Mandor, sangat memilukan. Banyak yang pingsan menyaksikannya. Di sana-sini tulang belulang berserakan. Kerangka-kerangka itu sudah bercerai-berai karena dimakan babi hutan. Di sana-sini terlihat pula bekas-bekas pakaian, baik pakaian pria maupun pakaian wanita. Bekas kain panjang wanita, menurutnya ada 5 helai. Juga rambut wanita, setagen dan sandal. Dari sekian banyak barang yang terlihat, ada satu yang dia kenal betul, yaitu sebuah sisa celana. Ciri celana itu tidak umum, karena bawaan dari Medan. Ketika almarhum suaminya ditangkap, celana itulah yang dipakainya. Tapi yang mana kerangka sang suami, tak dapat ditemukan.

Sebelum pulang ke Pontianak, mereka sempat singgah di pasar Mandor. Di sana diperoleh cerita beberapa waktu sebelumnya truk-truk Jepang memang sering datang pada malam hari. Ketika pulang selalu dalam keadaan kosong. Dan bukan jarang penduduk pasar Mandor mendengar jeritan-jeritan yang memelas dari tempat pembantaian itu. Dan menurut cerita, Jepang membunuh korbannya dengan cara memancung menggunakan samurai. Tampaknya tengkorak-tengkorak di sana ketika itu dalam keadaan utuh, bulat. Dan mengenai ini, tidaklah sempat diteliti dengan seksama, karena mereka tak tahan …

Dia menuturkan, suatu pagi Maret 1944 sekitar pukul 10 Mahidin Batubara diambil Jepang dari kantornya. Teman-teman sekantornya yang sama-sama diambil pada waktu itu adalah Ambo Pasir dan H Badaruddin atau Haji Badrun. Tapi haji Badrun kemudian dipulangkan kembali. Setelah Mahidin ditangkap, pada hari itu telah datang ke rumah mereka beberapa orang suruhan Jepang. Mereka mengatakan agar barang-barang milik Mahidin diambil dari kantor Kempeitai. Barang-barang tersebut kenang Saddiah berubah sepeda, cincin, topi dan uang 11 Rupiah atau uang Jepang.

Pada hari-hari berikutnya datang lagi orang suruhan Jepang, sampai tiga kali, menyuruh saddiah datang ke kantor kempeitai. Apa boleh buat, ungkapnya, ia terpaksa datang. Ketika itu, kepadanya ditanyakan apa-apa saja harta yang mereka miliki. Lebih kurang seminggu kemudian di rumah mereka di pasar dipasang plakat. Saddiah bertanya kepada orang Tionghoa, apakah maksud tulisan berhuruf kanji pada plakat itu. Mereka mengatakan bahwa ke rumah tersebut, orang tidak diperbolehkan keluar masuk kecuali keluarga dekat.

Dia sudah berfirasat bahwa suaminya tidak bakal kembali lagi. Kepastian bahwa mereka tak akan lagi berjumpa dengan suaminya, menurut ibu yang saat ditinggal selamanya oleh sang suami mengasuh enam orang anak yang masih kanak-kanak itu, diperkuat dengan ditukarnya kartu distribusi dan lain-lain. Sebelumnya, semua kartu itu adalah atas nama Mahidin. (Din Osman)

MEREKA PASTI DIPANCUNG
Pekerjaan mengumpulkan tulang belulang itu memakan waktu lebih kurang 3 bulan lamanya. Ada yang bertumpuk di dalam parit-parit dangkal. Dan tak sedikit yang bertebaran ke mana-mana. Sebisa-bisanya tulang belulang itu dipungut, dibersihkan, lalu dikumpulkan. Seperti apa yang diperintahkan oleh seorang Belanda bernama van Doren, maka sewaktu akan dikuburkan tengkorak yang sudah terpisah dari kerangkanya itu harus dihadapkan ke kiblat.

Saini Saad kini sudah almarhum. Berusia sekitar 22 tahun ketika Jepang masuk ke Pontianak. Ia berasal dari Singkawang, mulai bermukim di Mandor pada 1946. ia ambil bagian dalam pekerjaan mengumpulkan tulang belulang korban, di bawah pengawasan Tentara Australia dan NICA. Selain itu ia pulalah yang menjadi tukang semen pertama yang mengerjakan penyemenan makam masal itu.

Dia menuturkan, menurut pengamatannya tengkorak-tengkorak itu dalam keadaan utuh. Meskipun sudah terpisah dari rahang bawahnya. Namun bagian-bagian yang lain tidak tampak cacat. Tidak terdapat lubang-lubang, ataupun tanda-tanda batok kepala yang pecah. Dan setiap kali ditemukan selalu kepala-kepala itu terpisah dari kerangka tubuh. Malah dalam letak yang agak berjauhan. Oleh sebab itu, ungkapnya, ia yakin para korban dibunuh dengan cara dipancung dengan samurai.

Dugaan ini diperkuat dengan melihat adanya bekas bangku-bangku yang berdekatan dengan parit-parit. Dia mengirakan, sebelum dibunuh korban disuruh duduk di atas bangku itu menghadap ke parit. Lalu disuruh sedikit membungkuk. Dan pada ketika itulah samurai Jepang diayunkan. Tubuh korban tentu akan jatuh sendiri ke parit, kalaupun tidak hanya dengan dorongan sedikit saja tubuh korban pasti masuk ke parit.

Di suatu dataran yang agak luas ditemukan juga tonggak-tonggak kayu yang seperti sengaja dipancangkan di tempat itu. Menurut dugaan Belanda, pada setiap tonggak ada mayat. Namun tidak digali. Di pekuburan masal yang terdiri dari 10 makam itu, ada sebuah yang dikhususkan bagi tulang belulang korban yang diangkut dari Sungai Durian Pontianak.

Ketika tentara Australia dan NICA mengumpulkan mayat korban di Mandor, pada waktu itu tulang belulang korban masih tersebar dalam areal yang cukup luas. Yang sudah dimasukkan Jepang ke dalam lubang juga ada. Tapi lubang itu tidak ditimbuni kembali. Baik tulang belulang yang tersebar ataupun yang terdapat di dalam lubang semuanya dikumpulkan. Upah membongkar satu lubang waktu itu 40 rupiah. Seorang pekerja kadang-kadang bisa membongkar dua lubang dalam satu hari.

Dengan melihat keadaan kerangka yang selalu terpisah dari kepalanya itu, diyakini kalau Jepang membunuh dengan cara memancung. Dan ada ditemukan sebuah kerangka yang tergeletak dalam posisi jongkok. Tentu saja tanpa kepala. Mungkin waktu dipancung ia diperintahkan berjongkok dulu. Dan pada 1946 ada mayat yang masih utuh. Terbaring dengan tangan kiri mendekap dada, mengenakan kain sarung corak insang. Bajunya model telok belanga, mengenakan songkok rotan beranyam. Warna tubuhnya kekuning-kuningan. Jari jemarinya tak berkuku. Mungkin Jepang telah mencabut semua kukunya.

Dari sekian banyak korban memang di antaranya ada yang perempuan. Tapi lewat kerangkanya sulit membedakan yang mana perempuan dan yang mana laki-laki. Cuma ditemukan ada kira-kira 7 sepatu dan sandal wanita. Modelnya berlainan. Juga ditemukan selendang cindai. (Din Osman)

IBU SELAMAT BERKAT ADIK BUNGSU
Ibu selamat dari penyungkupan dan rencana biadab kempeitai Jepang setelah sang ayah disungkup berkat sang adik bungsu yang saat itu berusia tak lebih dari sebulan. Itulah pengalaman yang dirasakan Gusti Mulia seperti dituturkannya di hari tuanya. Ia adalah salah seorang putra Panembahan Simpang Gusti Mesir yang juga korban penyungkupan Jepang bersama sejumlah kerabat lainnya. Menurut Mulia, akibat itu Kerajaan Simpang mengalami kehilangan satu generasinya.

Kerajaan Simpang terletak di wilayah Simpang Hilir sekarang. Pada masa pemerintahan Panembahan Gusti Mesir yang menggantikan panembahan sebelumnya, Gusti Rum, perekonomian mengalami masa yang cerah dengan sumber utama dari hasil hutan, kebun, dan karet. Kemakmuran rakyat Simpang pun berakhir dengan datangnya fasisme Jepang pada 1942. Rakyat mengalami penderitaan yang berat, mengalami kesulitan sandang dan pangan, sehingga rakyat memakan ubi dan sagu, berkain dan bercelanakan goni, serta berbaju kapuak (kulit kayu). Rakyat juga mengalami ketakutan dengan adanya teror yang dilakukan Jepang dan para kaki tangannya. Pelecehan terhadap ucapan koni ciwak diartikan, konicewak—celana goni baju kapuak, ada kopi gula tidak, menggambarkan keadaan pada masa itu.

Perekonomian lumpuh total, pasar sepi karena tidak adanya barang yang akan diperjual-belikan, tidak adanya beras, gula, tembakau, garam, minyak, dan bahan kebutuhan lainnya. Penduduk membuat garam dari batang nipah, gula dari kelapa dan enau, dan menggunakan minyak kelapa untuk penerangan. Pada waktu raja-raja dipanggil ke Pontianak untuk pertemuan yang diadakan oleh Jepang, Panembahan Gusti Mesir berangkat bersama Mas Raijin yang selalu diikutsertakan sebagai pembantunya untuk mempersiapkan semua keperluan selama bepergian. Dari Sukadana berangkat pula Tengku Betung atau Panembahan Tengku Idris. Setibanya di Pontianak semua raja-raja tersebut ditangkap Jepang, termasuk Gusti Mesir dan Mas Raijin.

Seminggu kemudian, Gusti Mesir dibebaskan atas perintah Tuan Siama Kepala Maskapai Durian Sebatang. Kemudian Gusti Mesir meminta Mas Raijin iparnya dibebaskan. Sulit sekali mencari Mas Raijin dari semua tawanan yang banyak itu yang disungkup dengan karung selipi dan hanya dilobangi sekedar untuk dapat melihat saja.

Untunglah ia akhirnya dapat ditemukan, karena ketika dalam barisan yang panjang, tawanan-tawanan yang disungkup itu sedang berjalan, tampak seorang di antaranya yang berjalan pincang. Itulah keberuntungan Mas Raijin. Karena kakinya pincang, selamatlah ia dari samurai Kempetai. Beberapa hari sekembalinya ke Telok Melano, berkumpullah semua penggawa, kiyai-kiyai, para patih dan demong, serta para kerabat kerajaan untuk bermusyawarah di istana Panembahan yang dipimpin oleh Penggawa Gusti Hamzah.

Pertemuan itu dimaksudkan mencari jalan menyelamatkan panembahan. Ada yang menyarankan agar melawan Jepang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada. Ada juga yang mengusulkan supaya dilaporkan meninggal karena ditangkap buaya – sebab waktu itu buaya sedang mengganas dan beberapa penduduk sudah menjadi korbannya. Ada pula yang mengusulkan agar lari bersembunyi ke pedalaman. Semua usul dan saran itu dengan halus ditolak oleh panembahan, karena menurut pertimbangannya usulan-usulan tersebut tidak akan membuahkan hasil yang baik, bahkan bakal mengorbankan rakyat sendiri. Panembahan Mesir berkata, biarlah dia yang menjadi korban, asal jangan rakyat.

Pertemuan tersebut melahirkan kekecewaan karena tidak dapat berbuat apa-apa. Panembahan sudah mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi dan tabah menghadapinya demi keselamatan rakyat dan keluarga. Setelah panembahan kembali dari Pontianak waktu penangkapan pertama itu, ia berkata bahwa Jepang pasti akan datang lagi untuk menangkapnya. Itulah sebabnya ia pada waktu itu selalu dalam keadaan siap dan tidak melepaskan pakaian baik siang maupun malam, bahkan tidurpun ayah masih mengenakan sepatu

Dalam keadaan seperti itu, ada berita tentang pelarian dari Pontianak. Kepala Staatwech (mata-mata) Belanda ke Melano. Maka datanglah Jepang dari Sukadana dan Ketapang untuk mencarinya. Panembahan diminta mengerahkan rakyat membantu menangkapnya. Diadakanlah penyisiran di sekitar Melano dan Rantau Panjang selama beberapa hari siang dan malam. Akhirnya Kepala Staatwach tersebut dapat ditangkap di Rantau Panjang dan langsung dibawa ke Ketapang. Selang beberapa hari setelah ditangkapnya Staatwach itu, datanglah motor cabang atau motor sungkup dengan dua orang Kempeitai dari Pontianak ke istana panembahan.

Kempeitai meminta Panembahan Mesir dibawa atau ditangkap. Di sekitar keraton banyak burung layang-layang, Kempeitai itu pun memainkan samurainya memancung burung-burung tersebut, akan tetapi tidak ada satu ekor pun yang kena, mungkin hanya untuk menakut-nakuti saja. Keadaan Keraton pada saat itu sangat sepi karena hanya ada istri Panembahan Mesir dan istri Panembahan Tua. Isak tangis tersendat-sendat, karena apa yang dikatakan panembahan memang itulah yang terjadi, bahwa Jepang pasti akan datang menangkapnya.

Turut dibawa juga Gusti Tawi Manteri Tani adik dari Panembahan Mesir yang rumahnya bersebelahan dengan Keraton. Mereka pun berjalan seiring menuju motor sungkup. Seperti suasana keraton yang sepi, daerah pasar pun juga sepi sehingga tidak banyak yang tahu akan peristiwa penangkapan itu. Kemudian dari Telok Melano, motor cabang itu terus melaju ke hulu Sungai Mata-Mata mengambil Panembahan Tua Gusti Rum di peladangannya, dan mudik lagi ke peladangan Sungai Pinang mengambil Gusti Umar abang Panembahan Mesir yang menjabat sebagai Menteri Polisi. Tengku Ajong suami dari Utin Temah adik Panembahan Mesir juga ditangkap. Begitu pula dengan sopir panembahan yang bernama Dolah, dan satu orang lagi bernama Bujang Kerepek. Jadi, semua yang ditangkap di Telok Melano adalah Gusti Rum, Gusti Mesir, Gusti Umar, Gusti Tawi, Tengku Ajung, Dolah dan Bujang Kerepek. Sedangkan keluarga kerajaan yang berasal dari Sukadana ialah Panembahan Tengku Idris (Tengku Betung), suami Utin Otek (kakak dari Panembahan Gusti Mesir). Adapun Gusti Jafar anak dari Gusti Rum yang telah berumur 18 tahun disembunyikan, karena Jepang mencari keturunan Gusti Rum ini dan kerabatnya yang berumur di atas 17 tahun dalam melaksanakan programnya Jepangisasi atau menjepangkan bangsa Indonesia.

Seminggu kemudian setelah Panembahan Gusti Mesir ditangkap untuk kedua kalinya itu, Kempeitai-kempeitai Jepang datang lagi ke keraton dan langsung memeriksa semua bagian-bagian rumah, setiap kamar, lorongan, bahkan kamar mandi. Tetapi mereka tidak menemukan apa-apa dan mereka pun tidak menyatakan sesuatu apa pun. Sejak itu hampir setiap minggu kempeitai-kempeitai Jepang datang untuk mencari istri Panembahan Mesir yaitu Utin Taharah atau ibu dari Gusti Mulia.

Adik bungsu Gusti Mulia yang baru saja berumur sebulan dan belum diberi nama saat ayahnya disungkup, menjadi pelindung, perisai, dan penyelamat sang ibu dari kebiadaban dan kebejadan Kempeitai Jepang. Setiap Kempeitai datang, ibu segera mengendong bayinya. Begitulah setiap kali yang dilakukan sang ibu ketika datangnya kempeitai-kempeitai Jepang. Semakin seringnya kempeitai datang, semakin besar pula kekhawatiran dan ketakutan ditangkap Jepang. Tetapi Allah menyelamatkan ibu melalui adik bungsu sebagai pelindung. (Din Osman)MENDUNG SELIMUTI MASA KECIL
Waktu itu Abdul Kadir Zein baru berusia 4,5 tahun saat Jepang menduduki Kota Pontianak. Tetapi dia seperti diungkapkan di hari senjanya, masih ingat dengan jelas semua kejadian tersebut. Suatu siang sepulang dari pekerjaan, ayahnya dijemput Jepang di rumah mereka. Ayahnya dinaikkan ke mobil VW, disuruh duduk di samping sopir dan kepalanya disungkup dengan kain hitam. Mereka tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Ibu mereka saat itu sedang mengandung, mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian sang ayah. Tiga hari setelah penangkapan, Jepang menyerahkan dompet, cincin, arloji tangan dan pakaian ayahnya. Mereka tahu artinya dan juga mereka belum mengetahui bagaimana nasib sang ayah.

Kisah tragis yang menimpa sang ayah. Syarif Zein Almutahar, ketika ditangkap Jepang baru memasuki usia 39 tahun. Menurut Kadir Zein putra keenam dari tujuh bersaudara, sebelum ayahnya ditangkap, mereka mendengar berita bahwa Sultan Pontianak telah ditangkap pada malam hari menjelang subuh bersama keluarga Istana Kadriyah. Ketika Syarif Zein Almutahar menceritakan peristiwa penangkapan kepada istrinya sambil menangis.

Yang lebih memperkuat keyakinan mereka bahwa sang ayah telah terbunuh oleh Jepang adalah laporan seseorang yang bekerja sebagai sopir pada tentara Jepang. Orang inilah yang datang kepada keluarga Zein beberapa bulan setelah penangkapan itu. Dia melihat dengan jelas ketika pukul 4 subuh mobil Jepang membawa semua tahanan dari penjara Pontianak. Di antara sekian banyak tahanan terdapat Zein dengan kaki dan tangan diikat.

Sebetulnya setelah beberapa bulan Zein ditahan, sang ibu yang tengah hamil bersama orang-orang lain diundang Jepang untuk menghadiri jamuan makan. Jamuan ini diselenggarakan di gedung Frobel School. Rupanya undangan jamuan makan itu hanya sebagai kedok. Yang sebenarnya tentara pendudukan Jepang itu ingin membunuh semua orang yang diundang. Tetapi, bertepatan dengan acara jamuan makan itu penduduk pehuluan orang-orang Dayak mengamuk. Dengan menggunakan panah, tombak, dan mandau mereka menyerang gedung pertemuan dan masuk melalui jendela. Acara jamuan makan menjadi bubar, karena tentara Jepang harus menghadapi kelompok orang-orang Dayak yang sedang mengamuk. Keadaan menjadi kacau balau.

Tak jauh berbeda dengan nasib yang dirasakan Abdul Kadir Zein di masa kanak-kanak, masa kecil yang diselimuti kabut gelap akibat penyungkupan terhadap orang tua laki-laki mereka, begitu pula yang dirasakan Halim Mahyuddin. Halim yang berusia sekitar delapan tahun ketika peristiwa itu terjadi, kini sudah almarhum. Semasa hidupnya dia menuturkan kisah kelam masa silamnya.

Saat itu sore hari dan Halim bersekolah siang. Ketika pulang sekolah ibu dan nenek memeluki dirinya sembari menangis sejadi-jadinya dan berujar kalau bapak telah diambil oleh Jepang. Saat itu kata diambil identik dengan datangnya malaikat maut. Dan telah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah Jepang tengah melancarkan aksi sungkup terhadap tokoh masyarakat, baik itu orang pergerakan menentang Jepang, para guru, orang kaya dan pengusaha kalangan Tionghoa, dan belakangan terdengar kabar bahwa Jepang akan membunuh semua lelaki yang berusia di atas sepuluh tahun.

Mahyuddin, nama orang tua Halim, bekerja di kantor Nomura, salah satu kantor Jepang yang bergerak di bidang perdagangan. Sebelumnya hingga penyerangan Jepang pertamakali di Kalimantan Barat, 19 Desember 1941, ia bekerja sebagai tenaga sukarelawan selaku palang merah. Mahyuddin berjiwa keras dan tak kenal kompromi. Telah sering kawan-kawannya mengajak untuk lari menghindari bahaya diambil Jepang, namun selalu ditepisnya. Bahkan mahyuddin pernah berkelahi habis-habisan dengan tentara Jepang di Hanazono, semacam bar restoran yang waktu itu merupakan tempat berkumpulnya anggota Persatuan Anak Borneo, lantaran orang Jepang ini memaksa agar orkes menyanyikan lagu-lagu Jepang. Padahal oleh anak-anak PAB telah digariskan lagu yang patut didendangkan di Hanazono hanyalah lagu-lagu keroncong dan Melayu.

Menurut Halim, peristiwa nahas menimpa ayahnya pada April 1943. usia sang ayah waktu itu sekitar 37 tahun. Sebagai anak yang berusia delapan tahun, yang dia ketahui sejak saat itu ayahnya tak pernah lagi pulang ke rumah. Ia tak membayangkan kalau ayahnya telah dibunuh dengan cara keji. Sepeninggal ayahnya, ibu merekalah yang kemudian mencari makan. Ibunya ikut grup sandiwara yang belakangan diketahui Halim melalui jalan seperti itu ibu mereka bisa memperoleh uang. Membeli makanan untuk anak-anaknya.

Selang beberapa waktu setelah sang ayah diambil Jepang, suatu hari truk sungkup Jepang berhenti di depan rumah mereka. Orang-orang yang berada di dalam rumah tahu siapa yang datang, dan tentu saja diliputi rasa takut luar biasa. Truk itu adalah mobil penyungkup. Mereka datang kepada sang ibu sambil mengatakan kalau ayah ingin ketemu. Mereka serumah terutama nenek sudah tak bisa lagi dibuat tenang. Pergi bersama truk berarti mati. Dan Tuhan mendengar jerit hati mereka agar ibu jangan direnggut dari mereka yang tengah membutuhkan kehadirannya. Akhirnya sang ibu selamat karena jerit tangis adik Halim yang kecil. Agaknya Jepang itu merasa risih mendengar suara tangis bocah. Akhirnya mereka pergi begitu saja.

Lain pula kisah duka yang dialami Ilham Sanusi. Ia ingat betul. Waktu itu, ayahnya sedang bekerja di kantor. Ditunggu seharian, sampai sore, sang ayah tak juga kunjung pulang ke rumah. Ibunya pun menjadi gelisah. Firasat mereka sudah berkata lain. Namun, mereka hanya bisa berharap jangan sampai ayahnya ditangkap pula sebagaimana yang disaksikan ataupun didengar tentang penangkapan-penangkapan ketika itu.

Benar saja. Keesokan harinya, ada orang suruhan yang datang ke rumah mereka. Orang ini mengembalikan pakaian dinas dan jam tangan milik ayahnya. Termasuk lencana yang disematkan di dada ayahnya pun ikut dikembalikan. Kepada orang suruhan itu, sang ibu dengan isak tangis dan diliputi ketakutan sempat bertanya tentang ke mana gerangan suaminya dibawa. Namun, yang ditanya tak sepatah katapun menjawab. Dia hanya berlalu begitu saja.

Ilham kecil kala itu hanya termangu memandangi pakaian ayahnya yang teronggok bersama arloji yang jarumnya masih terus berputar. (Din Osman)

MERASA DIPERALAT JEPANG
Tadinya dia tertarik pada Jepang karena keberanian Jepang yang secara terang-terangan melawan bangsa kulit putih yang telah menjajah dalam waktu lama. Kemudian setelah di Tokyo, bersama orang-orang Filipina, Malaka, Birma dan lainnya, mereka sepakat merasa diperalat Jepang. Apalagi bom Amerika mulai berjatuhan di negeri Jepang.

Itu diungkapkan Tadjuddin Fatah di usia senjanya mengenang saat dirinya pernah mengenyam pendidikan di negeri Jepang selama hampir lima tahun, 1942—1947, dari menjadi kaigun heiho hingga ke sekolah pertanian. Karena tidak berada di tanah air, pada sekitar 1943 Tadjuddin tidak mengetahui kalau di daerahnya berlangsung pembantaian besar-besaran. Setelah pulang baru dirinya mendengar cerita orang-orang. Sementara orang tuanya yang terhindar dari musibah itu lebih banyak diam lantaran shock.

Saat itu, 1943, orang tuanya yang wiraswastawan diambil dan ditahan oleh tentara Jepang. Haji Badruddin alias Haji Badrun, demikian nama orang tua itu yang saat tersebut baru memasuki usia 40 tahun. Ia sangat panik ketika tahu dirinya bakal dibunuh. Bersama-sama rombongan yang dibawa ke tahanan terdapat pula adiknya, Haji Abdullah yang saat itu berusia 35 tahun. Abdullah juga pengusaha. Dalam keadaan panik Haji Badrun mendatangi perwira Jepang seraya mengatakan bahwa anaknya ada di Tokyo. Dengan menyebut nama Tadjuddin yang berada di Tokyo, akhirnya Jepang melepaskan Haji Badrun.

Setelah merasa bebas, Badrun lantas ingat kepada nasib adiknya. Ia pun kembali menghadap Jepang dengan mengatakan bahwa Haji Abdullah adalah adik kandungnya. Namun tentara jepang itu membentak Badrun seraya mengatakan apakah dirinya mau dipotong juga. Tentu saja Badrun tak bisa berbuat lebih jauh lagi. Dengan hati sedih ia pun pulang ke rumah. Di benaknya membayangkan nasib buruk yang menimpa adik serta teman-temannya yang kemudian belakangan diketahui dibawa ke Mandor.

Ketika itu usia Tadjuddin sekitar 17 tahun. Menurutnya setelah dibebaskan Haji Badrun menjadi shock. Dia selalu memilih diam dalam menghadapi Jepang. Adapun haji Abdullah, dibunuh dalam usia 35 tahun dengan meninggalkan tujuh orang anak yang masih kecil-kecil. Pada hari nahas itu akan tiba, Abdullah berulang-ulang mengatakan kepada keluarganya bahwa bila ia tidak pulang janganlah terlalu risau atau panik. Ia seakan sudah mendapat firasat untuk itu. Dan Abdullah pun disungkup Jepang saat berada di kantornya. Di kantor yang sama juga diambil sekitar 25 orang. Semuanya tak kembali dan semuanya dituduh tidak mau bekerja sama dengan Jepang. (Din Osman)

MAWAR TERKULAI KE BUMI
Lebih dari 20 tahun jenazah penjahat perang terkubur, pada akhir 1977, Ya’ Syarif Umar saat itu anggota DPRD Kalbar yang juga Veteran Pejuang kemerdekaan RI dan mantan anggota MPRS RI, mendapat surat dari Tsucimochi di Tokyo Jepang. Tsuchimochi adalah bekas letnan satu sukarelawan dari Mancukho Jepang. Ia pernah menetap di Pontianak bersama pamannya Dr Motoshima seorang pengusaha perkebunan karet di Sebebat Ngabang. Hubungan orang tua Syarif dengan Tsuchimochi dan Motoshima sangat baik.

Setelah jepang mendarat di Kalimantan Barat, kenang Syarif yang kini sudah almarhum, barulah ia tahu bahwa Tsuchimochi dan Motoshima sebagaimana juga Honda, mereka adalah agen rahasia Jepang. Sebelum pecah perang Dunia II, tidak ada yang tahu bahwa mereka itu spion. Dalam surat itu Tsuchimochi menanyakan tentang kemungkinan rekan-rekannya bekas veteran Jepang yang orang sipil mengunjungi dan berziarah ke Mandor, apakah tidak ada masalah.

Surat itu disampaikan Syarif kepada Gubernur Kalbar Kadarusno waktu itu. Ternyata ada respon. Silakan, kami bangsa pemaaf, kata Kadarusno sebagaimana dikutip Syarif. Setelah itu Syarif mengirim telegram ke jepang mengabarkan keterbukaan Pemerintah Daerah Kalimantan Barat. Tak lama setelah itu Kurose Sekretaris Utama Kedutaan Jepang di Jakarta menemui Syarif di Pontianak. Kunjungan ini boleh dibilang semacam penjajakan awal. Siapa tahu rakyat Kalimantan Barat masih menyimpan dendam terhadap orang Jepang. Ternyata warga Kalbar sudah melupakan kisah duka tersebut meski tak pernah menghapuskannya. Lalu Kurose mengunjungi Singkawang.

Setelah kunjungan awal pada Maret 1977 itu, rombongan Tsuchimochi dan kawan-kawannya yang dipimpin Otohisha Asuka, semuanya 21 orang, datang ke Pontianak. Mereka adalah orang sipil bekas tawanan perang Sekutu yang pernah ditahan di penjara Sungai Jawi. Kunjunganitu selain untuk berziarah, juga melakukan dengar pendapat dengan Gubernur Kalbar.

Sejak itu hampir tiap tahun turis Jepang mengunjungi kuburan Mandor untuk berziarah. Dan pada 1985 Asuka datang lagi. Tapi dalam rombongan kali ini ada Tadahisa Daigo, putra Cujo Daigo dan Hideo kamada putra Cujo Kamada. Sehingga pertemuan dengan Syarif terasa lebih penting. Mereka berniat mengambil 16 abu jenazah keluarga mereka yang terkubur di Pontianak. Ya’ Syarif Umar terkejut mendengar niat itu. Sebab ia merasa tidak tahu tempat kubur tentara Jepang itu.

Masco membeberkan tentang dirinya yang kala itu dipenjarakan bersama 16 tawanan perang tersebut. Malah, kata Masco, sewaktu 16 tawanan itu dikubur, ia ikut memikul peti matinya satu persatu. Itu sebabnya ia tahu persis. Bahkan saat penembakan sampai penguburannya ia ingat betul. Syarif tidak bisa memutuskan segera. Sebab kasus ini sudah menjadi masalah nasional. Untuk itu ia menyarankan pihak keluarga atau pemerintah jepang menghubungi gubernur. Atas saran tersebut maka Daigo yang mengatasnamakan 16 keluarga penjahat perang tersebut, pada September 1987 mengirim surat kepada Gubernur Kalbar yang waktu itu sudah dijabat Soedjiman.

Dalam surat itu antara lain disebutkan bahwa segala biaya pengiriman abu jenazah ditanggung oleh mereka. Yang penting juga, pihak Tadahisa Daigo melampirkan surat kuasa khusus kepada Ya’ Syarif Umar untuk proses pencarian dan penggalian jenazah. Permohonan itu disetujui pada Nopember 1987. sebulan setelah itu, Daigo, Masco dan Asuka datang ke Pontianak.

Operasi pencarian kubur itu berada di lokasi sekitar 20 meter sebelah luar kompleks penjara Sungai Jawi, atau Rumah Sakit Santo Antonius sekarang. Dibantu oleh beberapa sipir penjara, penggalian dari pagi hingga sore selama dua hari berhasil menemukan 16 kerangka jenazah. Satu tengkorak masih utuh, dengan gigi terbalut emas. Gigi emas itulah penunjuk bagi Daigo bahwa itu tengkorak ayahnya sang admiral. Ke-16 kerangka itu kemudian diperabukan. Dan abu mereka dimasukkan ke dalam dua guci kecil yang dibungkus dengan kain kuning, lalu diikatkan pada dada Masco. Dua guci itu tetap menempel terus sejak dari Pontianak sampai ke lapangan terbang Narita Tokyo jepang. Kedatangan abu jenazah itu disambut dengan upacara militer. Abu jenazah itu kemudian disimpan di satu kuil terbesar di Jepang, menjadi saksi sejarah.

Bagaimana perasaan Ya’ Syarif Umar sendiri? Kita bangsa pemaaf, kata dia yang kini sudah almarhum. Syarif sendiri punya abang kandung, namanya Ya’ Arifin Umar, juga korban pembantaian Jepang di Pontianak. Arifin saat dibantai karena aktifitasnya sebagai kepala Pasukan Surya Wirawan. Dan Arifin masih pengantin baru saat diambil Jepang dan tak pernah kembali. Kejadian itu hanya diketahui Syarif lewat surat dari salah seorang keluarganya. Saat itu ia sudah di Makassar sebagai siswa Kai-inyo Seijo sekolah pelayaran di sana. Dan dia menyandang pangkat Kaigun Tokubetsu Heiho dengan posisi sebagai Dancho Jibakutai atau komandan regu Pasukan Berani Mati. Suratnya pun, menurut Syarif, memakai bahasa bunga, tidak berani terus terang, antara lain disebutkan kakakmu Arifin seperti mawar gugur dari tangkainya, kenang Ya’ Syarif Umar di hari tuanya saat itu. (Din Osman)

SEMANGAT PERJUANGAN TANPA PERBEDAAN
Pendudukan tentara Jepang di Kalbar dimulai dengan dilancarkannya serangan melalui udara yang ketika itu dikenal masyarakat Pontianak dengan nama Pesawat Sembilan atau kapal Terbang Sembilan pada 7 Desember 1941. Itu tiga minggu setelah Jepang menyerang Armada Pasifik Amerika di Pearl Harbor yang kemudian mengobarlan Perang Dunia II.

Ungkapan dan kesaksian ini dikatakan H Ibrahim Saleh (Alm). Man four season atau tokoh empat musim yang aktif sejak pergerakan kemerdekaan, di mana ia ikut berjuang demi daerah dan tanah airnya. Kalau sudah menyangkut daerahnya, terlebih-lebih soal sejarah perjuangan di sini, Alm Ibrahim Saleh berteriak nyaring. Mantan tokoh pers daerah Kalbar yang hingga akhir hayatnya sukses menggeluti dunia bisnis itu nyaris hafal betul bagaimana kisah perjuangan di sini dalam menghadapi penjajah asing. Terutama menyangkut Kalbar di masa Perang Dunia II.

Dituturkannya, sebenarnya selesai Perang Dunia II, sudah menjadi berita dunia bahwa hanya di Kalbar ada pembunuhan massal, ada pemancungan massal oleh balatentara Jepang. Itu di luar dari pembantaian yang dilakukan Jepang di Indonesia. Yang pasti jumlah yang dibunuh Jepang di sini itu banyak jumlahnya. Ribuan pasti. Ibrahim termasuk salah seorang orang pertama yang datang ke Mandor setelah Jepang menyerah, bersama para janda korban menggunakan truk diangkut tentara Australia daru Pontianak.

Banyak sekali tengkorak dan tulang belulang bergelimpangan, kenang Ibrahim semasa hidupnya. Ada yang mengongoi menangis sejadi-jadinya karena dia kenal betul itu adalah tengkorak suaminya. Mereka berguling-guling di tanah di sana. Waktu itu masih semak belukar. Jadi, Ibrahim menegaskan waktu itu, dia tidak berani menyanggah dan tidak juga membenarkan soal angka pasti jumlah korban. Tapi banyak, ribuan pasti, ujarnya. Keluarganya sendiri dari pihak ayah dan ibunya, di Sambas dan di Ngabang, tak sedikit yang dibantai Jepang. Malah abang sepupunya juga menjadi korban. Pulang liburan sekolah karena namanya sama dengan nama yang dicari, Gusti Ismail Isya Pangeran Mangkubumi, maka Gusti Ismail Sotol keluarga Ibrahim Saleh menjadi korban ketika turun dari mobil, kemudian ditangkap langsung disungkup dan raib begitu saja.

Ada yang mengatakan bahwa cara kerja Jepang untuk mengambil atau menjemput korbannya dengan dalih mengadakan sebuah pertemuan. Itu betul. Bibi Ibrahim sendiri yang ketika itu dalam keadaan hamil tua pun ikut diambil. Ia bersama suaminya ikut disungkup. Begitu juga orang tua asuh tempat Ibrahim dan saudaranya yang lain indekos di Pontianak, yakni dr Rubini dan Amalia Rubini istrinya, merupakan tokoh utama yang disungkup. Yang pasti, sasaran Jepang adalah orang-orang berpengaruh, intelektuai, pengusaha khususnya kalangan Tionghoa. Orang-orang yang diciduk tidak dipilih-pilih latar belakang suku bangsanya. Semua yang disungkup adalah mereka yang dilaporkan mata-mata atau informan yang disebarkan Jepang.

Waktu itu Kalbar akan dijadikan semacam Korea. Bukankah anak-anak Korea waktu Perang Korea semua berbahasa, berbudaya Jepang. Sama juga dengan Formosa atau Taiwan. Semua di sana juga dibantai habis sejumlah satu generasi. Di Kalbar pembantaian itu berlangsung singkat, Oktober 1943 sampai awal 1945. Meski waktunya pendek, tapi korban yang ditimbulkan tak terbilang angka jumlahnya. Yang pasti adalah ribuan. Belum ada angka pasti tentang jumlah korban penyungkupan itu.

Jadi, peristiwa Mandor atau pembantaian Jepang di Kalbar, itu adalah kekejaman yang dilakukan oleh bangsa asing, bangsa pendatang sebagai penjajah, Jepang dalam hal ini. Hendaknya menjadi pelajaran bagi semua orang. Saat sekarang, terutama perselisihan antaretnis hendaklah dibuang jauh-jauh. Bukankah bagi Kalbar di abad lalu sudah kehilangan satu generasi terbaiknya, di mana dalam generasi itu merupakan lintas etnis, lintas agama dan kemajemukan di dalamnya. Menarik pelajaran dari peristiwa pembantaian oleh Jepang itu, seakan mengingatkan, bahwa kemajemukan merupakan lem perekat atau tali pengikat pemersatu keutuhan bagi daerah ini. Sekadar menyebutkan sedikit, yang dibantai di Mandor bukan hanya sekelompok atau segolongan tertentu saja, namun beragam. Ada Melayu, Jawa, Batak, Dayak, Manado, Sunda, Tionghoa, Ambon dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, konflik antaretnis buanglah jauh-jauh. Bukankah Kalbar pernah kehilangan satu generasi terbaiknya dulu. Dan tragedi Mandor berdarah, jadikan sebagai semangat perjuangan tanpa perbedaan. (Din Osman)

TERAKHIR BERSAMA SAAT SARAPAN PAGI
Syarif Muhammad bin Syarif Achmad Al Qadrie saat itu belum selesai sarapan pagi. Bahkan kue khas Melayu Pontianak yang dikenal dengan Kue Putu Sokok yang dihidangkan sang istri, Maimunah binti Mohammad Tahir, belum habis dilahapnya, ketika di halaman rumah mereka, jep warna hitam berhenti. Agaknya, keluarga Syarif Muhammad kedatangan tamu tak diundang. Dan belakangan baru disadari, mereka kehadiran tamu maut.

Sehari-harinya Syarif Muhammad adalah kepala Kampung Siantan Hulu. Sampai hari terakhir itu, ia berusia sekitar 40 tahun. Usia yang terbilang masih cukup muda. Saat tamu khusus itu datang, istrinya dan anak mereka Syarifah yang saat itu berusia sekitar 12 tahun, tetap berada di dapur. Dan tamu yang hadir, adalah balatentara pendudukan militer Jepang.

Saat mereka berada di ruang tengah rumah besar Syarif Muhammad, salah seorang di antaranya mengeluarkan buku besar. Lalu, membacakan nama Syarif Muhammad. Nama di dalam buku itu disertai selembar foto yang memang sebelumnya sudah dikumpulkan oleh balatentara Jepang. Menemani Sang Kepala Kampung, adalah Ahmad Dol keponakannya. Ahmad Dol ketika itu berusia sekitar 21 tahun. Mereka menduga, tentara Jepang hanya berurusan administrasi. Mengingat Syarif Muhammad adalah seorang pejabat di tingkat kampung. Namun, dugaan itu meleset. Karena, itulah saat terakhir mereka melihat lekat wajah orang yang mereka kasih dan sayangi dalam keadaan bernyawa.

Syarif menyambut kedatangan tentara Jepang yang berwajah dingin itu di serambi depan. Kedua tentara yang berada di tengah rumah itu bersenjata lengkap. Sedangkan, yang lainnya menunggu di dalam jep di luar rumah. Salah seorang mengatakan, Sentyo (Kepala Kampung), Kempeitai panggil! Maka, Syarif sambil mengatakan Haik! segera mengikuti mereka. Saat akan mengikuti balatentara yang membawanya segera itu, Syarif Muhammad sempat mengatakan kepada Achmad Dol, agar melihat rumah dan menjaga listrik dalam rumah mereka. Namun, belum jauh berjalan dari serambi rumahnya, serta belum sempat Achmad Dol menjawab pesan pamannya itu, salah seorang tentara Jepang meraih sarung bantal kursi tamu. Kain putih bersulam bunga itu lalu disungkupkan di kepala Syarif Muhammad.

Achmad Dol hanya terpana menyaksikan apa yang dialami pamannya itu. Dan seketika itu pula Syarif Muhammad diangkut dengan mobil jep meninggalkan rumah mereka di Siantan Hulu. Di tikungan jalan di Gang Selat Madura Siantan sekarang, hilanglah dari pandangan seisi rumah kepada Syarif Muhammad. Debu berterbangan saat kendaraan berwarna hitam pekat meninggalkan rumah calon korbannya. Dan, Syarif Muhammad bin Achmad Al Qadrie pun pergi dan hilang buat selamanya.
Belakangan barulah keluarganya tahu kalau orang terkasih dalam rumah tangga mereka itu telah dihabisi secara sadis oleh balatentara pendudukan militer Jepang. Tentu, sebagaimana juga keluarga korban lainnya, mereka tak mungkin melupakan kenangan pahit yang terus tersisa dan menyiksa jiwa mereka itu. Hati serasa nyeri manakala mengenang peristiwa maut tersebut. Kisah ini merupakan bagian modus operandi balatentara Jepang dalam menciduk satu persatu target operasi mereka. Dan, Syarif Muhammad adalah satu dari ribuan korban yang gugur. (Din Osman)

SEPOTONG MEMORI
Liauw A Ciu ditangkap pada 12 bulan 8 Imlek (28 September 1944, Pen) subu di rumah kediaman di Singkawang. Sebab apa dia ditangkap dia tidak tahu pasti. Besoknya 13 dia dibawa ke Pontianak. Dalam perjalanan Liauw ada niat untuk melarikan diri dengan cara meloncat dari truk (belakangan disebutkan sebagai auto sungkup). Sebab sejak ditangkap, sudah ada perasaan atau firasat bahwa dirinya tidak akan kembali. Harapan untuk pulang sepertinya kecil sekali.

Namun niat Liauw itu tidak mendapat dukungan teman-temannya yang sama-sama ditangkap. Pada umumnya mereka tidak berani dan sebagian besar beranggapan dirinya tidak ada berbuat kesalahan apa-apa. Karena itu yakin mereka semua akan dikembalikan lagi. Dan dia berpikir itulah yang menyebabkan mereka semua berpikiran bahwa penangkapan itu tidak akan sampai menyebabkan mereka kehilangan nyawa.

Begitulah, Liauw dan lainnya diditempatkan dalam satu kamar dalam satu kamp tahanan. Dia lihat setiap hari tak sedikit orang menjalani kerja paksa. Disiksa dan bahkan dibantai secara sadis. Suatu hari, termasuk dirinya sendiri, mereka dikirim dalam truk tertutup rapat ternyatanya menuju Sungai Durian. Untuk dijadikan romusha di sana.

Pada 14 dan 15, (30 September dan 1 Oktober 1944, pen), Liauw melihat banyak Thiat Lian Ci atau tahanan yang berangkat pergi bekerja melewati pintu ruangan mereka. Liauw dan lainnya menyaksikan dari kamp tahanan hanya menundukkan kepala. Namun, dia saksikan, sorot mata mereka menatap kepada mereka, seakan menyatakan bahwa mereka semua bernasib sama. Dan sepertinya mereka itu akan pergi buat selamanya, tidak ada semangat untuk hidup. Yang tampak hanya wajah lesu dan putus harapan.

Pada 15 hari raya Chung Chiu Chiat atau Festival Kue Bulan. Kempeitai membawa sehelai kertas blanko dan menyuruh Liauw menandatanganinya. Malam itu nampaknya hujan gerimis. Sementara bulan mengambang penuh. Kira-kira pukul sepuluh malam.dalam perasaannya, inilah kali terakhir kehidupan Liauw. Sebab setelah ini, adalah mati! Pada saat itu, lampu telah dinyalakan. Terang benderang seluruh kamp. Ratusan kepala bergerak-gerak di sekeliling. Setiap orang hanya memakai singlet, celana pendek, tapi ada juga yang tidak memakai baju. Kepala ditutupi atau disungkup dan tangan diikat ke belakang. Setiap orang memiliki nomor. Liauw sendiri sewaktu masuk kamp diberi nomor 15 dan saat akan diangkut dengan truk pada malam nahas itu dia diberi nomor 101.

Semua baris antri. Mereka semua kemudian dipanggil satu persatu, hingga slesai tengah malam. Tak kurang ada sepuluh truk yang kemudian berjalan perlahan mulai bergerak mengangkut mereka. Tidak tahu akan dibawa ke mana. Dia kebenaran dinaikkan ke truk terakhir. Paling belakang. Dapat dia rasakan perjalanan truk. mereka puluhan orang dipaksakan berada dalam satu truk. Tak ada yang berani bersuara. Semua senyap, kecuali bunyi mesin auto truk. Liauw yakin, dari perasaan yang dia rasakan saat truk bergerak, mereka tidak diseberangkan lewat Sungai Kapuas. Karena mobil tidak naik ke pelampung. Saat itu tidak ada jembatan penyeberangan.

Liauw yakin. Dan ternyata benar kemudiannya, truk yang mengangkut mereka menuju ke arah Sungai Duian sekarang. Dalam perjalanan tengah malam itulah dia berusaha keras untuk melarikan diri. Semua truk yang mengangkut para tahanan ditutup rapat dengan terpal. Masing-masing truk diawasi tiga sampai lima orang balatentara Jepang yang siap dengan senapan laras panjang, sangkur dan bayonet yang terhunus.

Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja truk yang Liauw tumpangi mengalami berhenti mendadak. Mungkin sekali kendaraan di depannya mengalami mogok, sehingga kendaraan yang paling akhir ini harus berhenti pula. Tentara Jepang yang mengawasi mereka, turun untuk memastikan ada apa di depan. Maka pada saat seperti itulah Liauw nekad untuk meloloskan diri. Diterangi cahaya bulan yang mengambang penuh, namun di sisi kiri-kanan gelap gulita pada pekat malam itu, Liauw melarikan diri. Yang ada dalam benak dia, daripada disiksa sebagai pekerja paksa yang pasti akan dihukum mati, lebih baik melarikan diri. Kalau pun tertangkap seketika, akan mati seketika itu pula. Maka Liauw pun melarikan diri dan masuk ke semak-belukar tempat iring-iringan kendaraan truk terhenti. Liauw tidak tahu di mana dan apa nama tempatnya.

Pada tengah malam itu, Liauw terus melarikan diri memasuki hutan belantara. Dalam kegelapan malam, yang dia yakin sudah sangat jauh dari iring-iringan kendaraan tadi, samara-samar dia yakini ada pondok penduduk. Dengan perasaan takut, capek dan suatu yang sulit digambarkan, Liauw pun menemui orang di dalam pondok itu. Ternyata, seorang nenek yang sudah tua. Orang tua inilah yang kemudian menyelamatkan dia, bahkan menjadikan Liauw anak angkatnya.

Mengenai bagaimana tentang truk-truk tadi selanjutnya, Liauw sama sekali tidak tahu lagi. Tetapi ada satu hal yang harus dia tegaskan bahwa dia pernah bersumpah di muka teman sekamar tahanan, seandainya dia bisa meloloskan diri, dia akan berusaha semaksimal mungkin membalaskan dendam atas pengorbanan mereka yang ternyata mereka itu semua hilang tak berbekas. Satu hal yang pasti, mereka ditangkap balatentara Jepang dan sama sekali tidak ada harapan hidup dan atau kembali pulang ke rumahnya.

Begitulah kemudian, setelah akhir peperangan ditemukan tak sedikit tulang belulang di kawasan Sungai Durian Pontianak. Tulang belulang itu kemudian dikumpulkan dan belakangan diangkut ke Mandor untuk disatukan pemakamannya di sana dengan tulang belulang lainnya yang juga telah ditemukan ketika itu. Kejadian ini membuktikan, betapa kejam dan tanpa prikemanusiaan, dengan tindakan penculikan dan penangkapan oleh tentara Nippon, mereka telah membunuh tanpa proses hukum setiap orang yang dicurigai tidak sefaham dan sejalan dengan politik mereka saat itu. (Din Osman)
DI ANTARA ANAK KORBAN BERTUTUR
Jepang telah membantai kaum cerdik pandai. Ribuan keluarga menangis kehilangan orang yang dicintainya. Rakyat Kalbar jelas mengutuk tragedi berdarah yang telah menghilangkan satu generasi intelktual mereka. Mengenang kejadian lampau itu, sungguh terasa syahdu. Dalam suasana haru itulah terungkap kenangan pahit di masa silam. Tak sedikit di antara ahli waris yang menuturkan kisah duka yang dialami keluarga mereka. Di antaranya adalah yang diungkapkan Shiau Lan yang di hari senjanya menetap di Jakarta. Shiau Lan lahir di Landak Ngabang.

Ia ingat betul saat ayahnya dijemput oleh balatentara Jepang. Ayahnya seorang guru. Dijemput saat sang ayah tengah makan siang di rumah mereka. Kepergian sang ayah saat dibawa tentara Jepang, ternyata pergi buat selamanya. Tidak pernah kembali, bahkan tak ada kabar beritanya sama sekali. Kecuali kemudian baru diketahui dan diyakini keluarganya, kalau sang ayah sudah dihabisi Jepang bersama kaum cerdik pandai lainnya.

Saat itu Shiau Lan baru berusia sekitar delapan tahun. Ia lahir di Pasar Lama Ngabang dalam 1936. Ayahnya bernama Djie Sie Ngo Kepala Sekolah Chung Hua Kung Ciek di Ngabang. Saat itu ibu mereka tengah mengandung adik Shiau yang bungsu. Sang ibu saat itu tengah hamil tiga bulan saat suami tercintanya harus diciduk. Shiau Lan anak paling tua. Dengan tetes air mata ia menuturkan, adik bungsunya tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Sebelum penculikan terjadi, rumah mereka didatangi seorang kempeitai. Dia minta Djie Sie Ngo untuk ikut ke kantor Bunken Kanrikan Ngabang. Karena merasa tak ada kesalahan, Guru Sie Ngo ikut saja. Meski saat itu ia tengah makan siang. Dan kepergian itulah ternyata pergi buat selamanya.

Lain kisah Shiau Lan, lain pula kenangan Chung Kim Liong. Namun keduanya yang tergolong masih famili dan berasal dari satu daerah yang sama di Ngabang itu, mengalami nasib yang sama. Mereka sama-sama memiliki kenangan pahit di saat harus kehilangan orangtua lelakinya pada masa pendudukan militer balatentara Jepang di masa Perang Dunia II di Ngabang Landak. Pria kelahiran Ngabang 1934 itu mengenang, ayahnya seorang pengusaha yang berjiwa sosial. Dia adalah tokoh masyarakat Tionghoa di Ngabang, namun dia lebih dikenal di kalangan luas. Bahkan, kesehariannya sudah sangat akrab dengan berbagai masyarakat Ngabang, Dayak atau pun Melayu di sana. Saat itu Kim Liong berusia sekitar 10 tahun saat sang ayah diangkut balatentara Jepang. Dalihnya, Cung Sui Lin sang ayah, harus menghadap Bunken Kanrikan. Namun, kepergian itu tak pernah lagi kembali. Pergi buat selamanya.

Barulah kemudian, setelah hampir setahun tak ada kabar beritanya, ada seorang Jepang datang menemui keluarga mereka di Pasar Lama Ngabang. Kedatangannya untuk mengantar kacamata Cung Sui Lin. Itulah kenangan terakhir dan peninggalannya yang paling bersejarah. Hanya kacamata yang tersisa, sedang nyawanya melayang entah ke mana.

Nasib malang sebagaimana dialami Djie Sie Ngo dan Cung Sui Lin, tak jauh berbeda modus operandi yang juga dialami korban lainnya. Mereka hanya berbeda lokasi tempat tinggal, namun di hadapan balatentara fasis militer Jepang, pembantaian terhadap mereka tak ada bedanya. Begitu pula nahas yang dialami Lim Bak Hwat dan beberapa orang keluarganya. Sebuah pagi yang tenang di kawasan Pasar Tengah Pontianak sekarang. Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Lim Kian Chon bocah kecil itu asyik bermain sepakbola bersama anak sebayanya di pekarangan rumah mereka. Kian Chon saat itu berusia sekitar sembilan tahun.
Di ruang tamu rumah mereka, Lim Bak Hwat tengah menggendong Lim Kiam Ciu yang saat itu baru berusia sekitar sembilan hari. Di hari tuanya sekarang, si bungsu Kiam Ciu lebih dikenal sebagai Alexander Marsudi Halim, saat menuturkan kenangan ini dia telah berusia sekitar 62 tahun. Dari abangnya Kiam Chon dia mengetahui kalau balatentara Jepang menyungkup ayah mereka pada 18 Agustus 1944.

Kian Chon yang asyik bermain sepakbola kaget melihat belasan serdadu Jepang yang masuk pekarangan rumah mereka. Ia pun tak sempat memberi hormat sebagaimana keharusan pada semua usia masyarakat terhadap balatentara Jepang. Di dalam rumah, balatentara marah-marah dan menghardik Lim Bak Hwat. Tak banyak buang waktu, langsung menangkapnya, seraya menyebut nama Lim Bak Khim dari daftar yang dipegang salah seorang balatentara Jepang di dalam ruangan itu.

Kebenaran di ruang tamu itu tergeletak bantal tidur bayi Kiam Ciu. Maka sarung bantal itulah yang kemudian digunakan untuk menyungkup kapala Lim Bak Hwat. Seketika itu pula Bak Hwat dibawa pergi, entah ke mana dan tak ada kabar beritanya. Ia sudah hilang. Dan belakangan, barulah keluarganya memperoleh kabar tentang pembantaian besar-besaran di Mandor. Dan mereka meyakini di sanalah Bak Hwat dihabisi bersama ribuan orang lainnya. Mereka tak mengenali jasad ayahnya yang sudah berbauran dengan ribuah tengkorak korban lainnya.

Sebetulnya Lim Bak Hwat sudah lolos dari incaran balatentara Jepang. Dia mengungsi ke Kampung Parit Baru. Sehari-harinya Bak Hwat adalah Kepala Cen Chiang Cung Sui atau Kepala Sekolah setingkat SMP sekarang. Sekolahnya berlokasi di Pasar Cempaka atau kawasan Kapuas Indah Pontianak sekarang. Bak Hwat dianggap berbahaya, sebagaimana juga kalangan terpelajar lainnya. Dicurigai akan bersekongkol dengan kalangan pergerakan lainnya untuk menentang balatentara Jepang.

Kerinduan akan anak-anaknya, Bak Hwat suatu hari yang nahas itu pulang ke Pontianak di rumah mereka di kawasan Pasar Tengah. Terlebih, si bungsu baru berusia sekitar seminggu lebih. Kegembiraan seorang ayah yang sangat terasakan terpancar dari kerinduan pada anak-anaknya. Begitulah nasib nahas yang dialami Bak Hwat. Di hari yang sama, bukan Bak Hwat sendiri yang disungkup. Seorang kerabatnya yang lain, Lim Bak Khim, seorang Laothay juga diciduk. Bak Khim tinggal di kawasan Pasar Seroja sekarang. Seperti Bak Hwat, terlebih Bak Khim menjadi incaran Jepang pula, karena posisinya yang sangat strategis, khususnya di kalangan masyarakat Tionghoa. Bak Khim seorang lurah untuk ukuran sekarang, di samping tentunya sebagai orang berpengaruh serta dikenal sebagai pemuka masyarakat.

Sebetulnya Lim Bak Khim telah diminta oleh saudara sepupunya untuk menyingkir ke Semarang. Semula saudara sepupunya ini tahu bagaimana tindak tanduk Jepang. Saudara sepupunya itu seorang dokter, bernama Lim Bak Choi. Mengindahkan kata sepupunya itu, siang itu Bak Khim yang sudah berfirasat kalau dirinya pun akan segera ditangkap, berkemas-kemas untuk meninggalkan Pontianak.

Saat berkemas siang hari untuk malamnya segera pergi, balatentara Jepang datang dan langsung menyungkunya. Menurut penuturan menantunya, Lim Mui Jun, sebelum meninggalkan rumahnya saat kedatangan balatentara Jepang, surat yang dikirim dokter Lim Bak Choi dari Semarang itu ditelan bulat oleh Bak Khim. Tindakan itu dilakukan Bak Khim demi keselamatan saudaranya yang telah membocorkan tindakan bengis yang akan dilakukan Jepang.

Namun malang. Beberapa minggu kemudian, Lim Bak Choi pun tahu tentang penangkapan saudara-saudaranya di Pontianak. Ia segera ke Pontianak, setelah menyatakan keluar dari rumah sakit tempat ia bertugas di Semarang. Balatentara Jepang teryata tak ingin dibuat pusing oleh Lim Bak Choi, khawatir dokter muda ini akan terlibat dalam gerakan politis kaum pergerakan di sini, maka ia pun segera disungkup pula. Maka, dokter Lim Bak Choi pun ikut menjadi korban pembantaian massal di daerah ini.

Kini, baik Shiau Lan, Cung Kim Liong, Lim Kian Chon, Lim Kiam Ciu maupun Lim Mui Jun, semuanya sudah menapak usia senja. Rambutnya sudah memutih, batang usia mereka sudah meninggi. Walau saat peristiwa itu terjadi, mereka belum mengerti banyak, tapi sebagaimana juga yang lainnya, mereka merasakan kegetiran tragedi itu. Dan tentu bukan hanya mereka, ribuan keluarga lainnya juga mengalami kegetiran itu.

Lain pula Lim Bak Djue. Sosok tua ini mengatakan, mungkin dari masyarakat Tionghoa yang menjadi korban Jepang, keluarganya terbilang cukup banyak. Memang tak tanggung-tanggung, ada delapan anggota keluargnya yang dibantai Saudara Tua. Dia mengenang masa itu, setelah jepang berkuasa, masyarakat mengalami masa yang sangat pahit. Dengan dalih sebagai saudara tua, Jepang justru menjajah sampai lebih dari tiga tahun. Walau tak selama Belanda menancapkan kuku di tanah air, akan tetapi kebiadabannya melebihi dari rasa sakit yang diderita.

Djue mengatakan, pamannya sendiri ada dua orang yang dibunuh Jepang, dan ada enam saudaranya yang juga mengalami nasib sama. Dia sendiri masih kecil saat kejadian itu. Karena itulah dia luput dari pembantaian. Tapi ketika sudah agak remaja, Lim Lan Hiang sang ayah bercerita. Dari pengisahan sang ayah inilah kemudian Djue mengisahkan ulang, kisah keluarga yang dibantai Saudara Tua ini.

Kedua pamannya yang terbunuh adalah Lim Hak Sio dan Lim Kheng Tie. Sedangkan enam saudaranya yang mengalami nasih malang pula adalah Lim Bak Cui, Lim Bak Kim, Lim Bak Khim, Lim Bak Song, dr Lim Bak Chai dan Lim Bak Huat. Sebelumnya Jepang pernah memanggil mereka. Tapi dua hari kemudian dilepas. Karenanya sangat disangka kalau panggilan setelah dua hari menikmati kebebasan itu adalah akhir, sama dengan akhir hidup mereka kemudian. Keluarga ini berasal dari kalangan pengusaha. Konglomerat lokal Kalbar pada zamannya. Karena sebagai kalangan terpandang itu pula, Jepang tak membiarkan mereka leluasa bergerak. (Din Osman)

ANAK JALANAN GENERASI PERTAMA
Romo atau ayah saya adalah seorang ambtenaar di kantor BOW. Sebagai opseter kadaster, atau Dinas Pekerjaan Umum di bidang pertanahan atau agraria selaku Mantri Ukur di Pontianak. Waktu itu saya sekolah di HIS di Jalan Nurali Pontianak sekarang, tidak jauh dari kantor romo. Saya, antara lain, satu sekolah dengan H Ibrahim Saleh (Alm). Menjelang usia saya 10 tahun saat duduk di klas III, Jepang mulai menduduki Kota Pontianak ini.
Yang saya ingat, demikian Rd Wahyudi salah seorang putra korban penjagalan Jepang di Kalbar mengisahkan, tidak lama setelah pendudukan tersebut, ayah kami Raden Padmo bersama rekannya Jaksa Raden Sukrisno yang tinggal berdekatan di Gang Sargo atau Jalan Cendana sekarang, ditangkap serdadu Jepang atas petunjuk yang disebut mata-mata Jepang. Istilahnya waktu itu disungkup. Sebelum penyungkupan terhadap ayah saya, telah terjadi hal serupa terhadap dr Agusdjam, dr Rubini bersama istrinya yang sedang hamil. Juga terhadap Panangian Harahap yang rumahnya berseberangan dengan rumah dr Rubini. Beitu pula Jaksa Sawon Wongso Oetomo. Tak luput pula guru HIS kami, Meneer van Dalen. Mereka ini mudah saya ingat, karena di samping sebagai orang dekat ayah, juga tempat tinggal kami tidak berjauhan.

Kala itu nyaris semua mantan pejabat governemen di masa sebelum pendudukan Jepang, maupun para tokoh terpelajar dari berbagai suku dan agama, semuanya disungkup. Semuanya terjadi begitu cepat. Sewaktu ditangkap atau disungkup, siang hari mereka dikumpulkan di rumah penjara Sungai Jawi Pontianak atau RS St Antonius Pontianak sekarang.

Kejadian yang menimpa keluarga Kesultanan Kadriyah Pontianak sudah pula kami dengar pada waktu itu. Setiap rumah orang yang disungkup, tak terkecuali rumah kami, di teras depannya ditempeli tanda bertuliskan huruf Jepang. Maksud tulisan itu isyarat bahwa rumah ini dilarang untuk dikunjungi siapa pun. Akibat ayah disungkup, ibu kami mengalami kurang ingatan. Sedangkan ketika itu, saya dan abang saya sebagai anak tertua dalam keluarga ini, belum bisa berbuat banyak. Dan bahkan belum mengerti apa-apa. Di rumah, adik saya tiga perempuan dan yang paling kecil seorang bayi laki-laki yang masih menyusu. Kami tidak tahu bagaimana menjalani hidup selanjutnya.

Hanya dalam beberapa bulan saja kehadiran balatentara Jepang di daerah ini, khususnya di Pontianak, keadaan praktis lumpuh. Bahan pokok tidak lagi mudah didapatkan. Terutama beras, garam, gula, sandang, pangan dan sebagainya. Anak-anak seusia saya dan sebagian besar penduduk sudah tak lagi mengenakan baju. Jepang memberikan kain dari kulit kayu yang disebut kain kepuak. Untuk menjahit baju yang masih ada, dengan benang dari serat nenas yang dibuat sendiri. Di jalanan hanya ada serdadu Jepang yang lalu-lalang yang dinamakan Kempeitai dan Tokeitai.

Di tengah Kota Pontianak ketika itu ada sebuah tangsi militer. Selain terdapat banyak perkantoran sejak zaman sebelum kedatangan Jepang. Setahu saya, tempat penjagalan atau pemancungan kepala orang-orang yang disungkup oleh tentara Jepang salah satunya berada di dekat kantor Syutizi atau sebelumnya kantor residen, di seberang jalan sepanjang pinggiran Sungai Kapuas. Di sana suatu ketika saya menyaksikan beberapa orang pastor berkebangsaan Belanda dipancung tentara Jepang.

Di Pontianak sudah terlampau banyak orang yang disembelih, orang yang berada di jalan atau sekitar itu diharuskan menyaksikan bagaimana tentara Jepang melakukan pemenggalan dengan sebilah samurainya. Kejadian keji itu nyaris setiap hari terjadi dan sengaja dipertontonkan di hadapan umum. Sebagian besar mereka yang dipancung atau dipenggal kepalanya di dalam Kota Pontianak adalah orang bule atau berkebangsaan Belanda dan Tionghoa. Juga para guru dan para pegawai pemerintahan Jepang sendiri.
Yang sangat tragis yang pernah saya saksikan, suatu hari kami anak-anak sekolah HIS dikumpulkan bersama anak-anak yang dulunya sekolah di Bruderan, Vervolkschool atau SR. kami dikumpulkan di penyeberangan Sungai Kapuas atau stegher pelampung Pontianak. Kami disuruh menyaksikan para suster dari gereja Katederal, para biarawati bekas guru sekolah anak-anak murid dari Vervolkschool. Mereka ini diangkut menggunakan mobil truk bersungkup terpal atau oto sungkup. Mereka duduk di atas barang-barang dalam bak truk.

Banyak di antara murid sekolah yang menangis karena menyaksikan nasib guru perempuan mereka yang sesungguhnya para biarawati atau para suster justru dalam keadaan hamil. Itulah para korban kebejatan moral tentara pendudukan Jepang. Sementara itu kejadian yang sangat menyayat hati, banyak anak gadis yang dijadikan jugun ianfu di kota ini. Dalih awal, para anak gadis itu dicomot dari keluarganya oleh Jepang untuk dikirim di Tokyo untuk disekolahkan. Namun di Pontianak, mereka dikurung di dalam rumah besar di Jalan Gusti Sulung Lelanang Pontianak sekarang. Waktu itu berada di sekitar Aniem atau kantor listrik Pontianak. Sebagian lainnya dirumahkan di Jalan Diponegoro dan Jalan Gajah Mada sekarang. Mereka disekap di rumah berpagar tinggi dan dijaga ketat yang dinamakan Rumah Hitam. Mereka ini dijadikan pemuas nafsu bejat balatentara Jepang atau sebagai jugun ianfu.

Para Kempeitai maupun Keibitai terlebih lagi Tokeitai menangkapi orang dengan seenaknya. Nyaris tak ada perlawanan saat ditangkap. Sementara yang yang belum tertangkap, seakan setiap harinya menunggu giliran untuk disungkup pula. Penangkapan itu berjalan mulus, karena adanya sejumlah mata-mata atau spion atau kolaborator Jepang. Di antara mereka ini yang dikenal luas ketika itu antara lain Amir, Komendong dan Lau Bak Seng. Kesemua mata-mata ini belakangan bersama 14 penjahat Perang Dunia II lainnya dieksekusi mati oleh NICA—Belanda di Pontianak.

Kami sebagai penduduk Pontianak sebelum pendudukan Jepang hanya mengetahui orang Jepang itu melalui beberapa warganya yang sudah bermukim di Pontianak. Di antaranya Honda yang tinggal di Gang Tengah atau Gang Masrono sebagai tukang foto dan ada pula yang menjadi tukang jahit pakaian. Sebelum keruntuhan kekuasaan Jepang, di simpang jalan menuju ke Jalan Kalimantan atau Jalan Sultan Abdur Rahman sekarang yang saat terakhir dinamakan Sentiong, telah digali beberapa lobang yang ukurannya sama dengan luas pekuburan di Mandor sekarang. Diketahui, ternyata lobang-lobang itu untuk menyimpan jasad manusia yang dipenggal Jepang. (Din Osman)

KEHILANGAN ORANGTUA SEJAK KANAK-KANAK
Ada lagi putra korban lain pembantaian Jepang di Kalbar, Soewito Limin. Ia masih ingat benar suatu malam sebelum ayahnya disungkup Jepang. Limin saat itu baru menginjak usia lima atau enam tahun, baru belajar bicara. Dan pada malam itu yang ternyata sebagai malam penghabisan mereka berkumpul dan merupakan malam nahas, Limin baru pertama kali bisa mengucapkan kata memanggil papa kepada orang tua laki-lakinya itu.

Kata-kata yang baru bisa diucapkannya malam itu membuat seluruh anggota keluarga terbawa dalam keceriaan. Karena seorang anak mulai bisa bicara dan memanggil ayahnya. Namun kebahagiaan itu pun luluh sirna. Papa, orang tercinta yang dipanggilnya itu, esok harinya ditangkap Jepang atau yang dinamakan disungkup atau diambil. Dan sejak hari itu pula sang ayah hilang buat selamanya. Dan Limin pun kehilangan orang yang mengasihinya.

Di hari tuanya sekarang, mengingat seraya menuturkan kisah duka itu, Limin sesekali terhenti bertutur. Ia tak kuasa menahan rasa sedih yang membekas dan mendalam atas kehilangan sang ayah tercinta lebih dari setengah abad lampau. Sebuah kesedihan yang mengumpal yang tersimpan dalam dada seorang anak yang merindukan ayahnya sudah barang tentu. Kesedihan dan kerinduan seorang anak yang tersimpan lebih dari 60 tahun itu terungkap juga akhirnya.

Disertai pergulatan batin di dalam hatinya, kenangan manis di masa lalu, kerinduan yang tidak pernah terjawab, pencarian seorang anak untuk menemukan kembali sesosok figur sang ayah yang yang terenggut begitu saja dari kehidupannya keluarga mereka. Dan bersama tetes deras airmatanya, Limin nyaris tak kuasa meneruskan kisah yang dialami keluarga mereka.

Lain Soewito Limin, lain pula Ir H Said Djafar. Arsitektur terkemuka Kalbar yang belakangan merancang Monumen Makam Joang Mandor itu, tak lain adalah salah seorang putra dari Saudagar H Djafar H Rasyid. Dan Djafar sendiri sebagai orang terkemuka yang aktif di dalam Sarekat Dagang Indonesia Pontianak (SADIP) di masa pendudukan militer Jepang adalah seorang dari sekian ribu korban pembantaian Jepang di daerah ini. Bersama ribuan korban lain, Rasyid hilang tak tentu rimbanya. Hanya kolektif diyakini mereka terkubur secara massal, terbesar tempatnya di Mandor.

Senasib yang dijalani orang tua laki-laki Soewito Limin dan Ir H Said Djafar, begitu pula nasib malang yang menimpa Lim Bak Chai. Di masa Perang Dunia II itu, Lim Bak Chai ditawari Jepang menjadi Kepala Rumah Sakit Umum di Kota Pontianak. Namun ia mengetahui Jepang telah menculik dan membantai saudara sepupunya, maka ia menolak tawaran tersebut. Lambat laun Jepang pun tahu alasan penolakan tersebut, karena Lim Bak Chai adalah bersepupu Lim Bak Khim. Maka tak khayal, ia pun menemui ajalnya dengan tragis dalam kebiadaban militer Jepang pula.

Tindakan keji dan kebiadaban balatentara Jepang seolah tak berhenti memangsa kalangan terpelajar dan terkemuka Kalbar. Dari hari ke hari satu demi satu mereka diciduk atau disungkup. Darah mereka pun tumpah dan nyawa pun meregang di ujung sabetan samurai atau pun akibat letupan moncong timah panas yang bersarang di dada mereka. Menyusul orang-orang sungkupan lainnya, gugur yang lainnya. Adalah Lim Bak Hwap alias Lim Teng Guan yang kala ketika itu berusia sekitar 34 tahun. Ia pimpinan sebuah sekolah pada sekolah yang sederajat dengan SR kala itu. Dia abang kandung Lim Bak Khim. Mereka pun yang mengalami nasib sama. Mereka ini keluarga besar NV Lim Lan Hiang yang kala itu memiliki saham sebesar f10.000. (Din Osman)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar